• Beranda
  • Series
    • Taman dan Waktu
    • Manula Tak Menua
  • Bergumam
  • Jurnal
  • Hubungi Penulis
instagram Email

flanelhitam.



Maaf tahun ini baru mengunjungimu (lagi).

19 tahun berlalu, pasti bertemu kami yang kau mau. Tapi ku yakin, tak hanya kami yang dirindu; tapi seorang Braman, Aku, Ayah, dan Ibu. Kau tahu? banyak cerita yang telah dilalu. Suka dan duka pasti kau saksikan dari tempat indah itu.

Kurasa dunia sekarang sudah berbeda, setidaknya bagi diriku. Dulu hening adalah sahabatku, lantas mengapa sekarang kusukai hal bising? Atau menurutmu ini merupakan hal yang patut dan niscaya terjadi? Kau yang lebih tahu, karena sejatinya kau memahami dunia ini lebih dari dari diriku yang baru menyentuh seperempat abad. Setelah dipikir, seperempat abad mengartikan bahwa seharusnya kau sudah berumur 19 tahun saat ini. Tak bisa kubayangkan; betapa pintar, cantik, dan baiknya kau apabila masih di sini.

Beragam cabang pikiran rasanya membagi spontan setiap waktu dan tak bisa dihentikan, layaknya amoeba yang membelah diri setiap 30 menit. Setelah bertemu beragam jenis orang, diyakini satu hal; tidak hanya diri ini, semua orang pun mengalami hal serupa.

Hey, kau tentunya tahu bukan? Banyak sekali kesalahan masing-masing dari kami lakukan. Kuharap kau tak kecewa dan memohon kepada-Nya yang ada di dekatmu; agar kami diberi kemudahan, kebahagiaan, serta ditunjukkan jalur bertemu denganmu kelak. Aamiin.

Aku tahu, tulisan ini tidak begitu panjang dan puitis seperti biasanya. Namun cukup untuk mengingatkan bahwa kami mempunyai insan kebanggaan yang telah memenangi kehidupan; bersama dengan-Nya serta hidup bahagia selamanya. Teruslah bermekaran dan mengharumi seisi surga, Sekar Ainun Fadhillah.

Share
Tweet
Pin
Share
3 Komentar


Telah satu minggu semenjak diri ini terbangun. Masih menjadi beban pikiran, tak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi belenggu tangan ini membatasi ruang gerak tubuh. Tak hanya itu, rantai besar nampaknya mengikat kaki dengan maksud tertentu. Sial, ruangan ini tak bisa menjadi tempat untuk hidup.

Lagi pula, bau tak sedap menyebar di segala sudut. Bahkan tak ada ruang untuk udara saling dipergunakan oleh makhlup hidup di dalamnya, yang tak lain adalah diriku. Tapi sungguh, sungguh melegakan, setitik cahaya dari lubang kecil memberi isyarat bahwa masih ada mentari di luar sana.

"5 menit lagi seharusnya ia datang"


10.18 pagi

"Oh hey! Kau terlambat 3 menit dari biasanya. Menu hari ini apa?"

Waktu sangat akrab di ruangan ini. Bagaimana tidak? Selain rantai yang menahan diri, terdapat jam bandul tinggi yang terukir cantik dengan aksara sunda kuno. Merasa aneh dan tak teringat, kenapa bisa dibaca serta dimengerti aksara tersebut?

"Aku bisa membaca tulisan aksara sunda di depan, apakah dulu Aku seorang wanita sastrawan? Atau mungkin seniman? Ayolah jawab, tak ada yang membuat penasaran selain diri ini"

Pria itu hanya diam, tak menjawab seperti biasanya. Ia sibuk menata sarapan ku yang beralaskan tanah. Terlihat perawakannya yang cukup bugar, tidak terlalu tambun. Digunakannya flanel hitam halus dengan celana bahan, serta beralaskan sepatu kulit. Tak bisa kulihat wajahnya, topeng Panji berwarna merah pekat itu selalu dikenakan kali ia berkunjung ke ruangan ini.

"Nampaknya lezat hari ini, nasi sayur dan udang. Apakah hari spesial?"

"Sudah seminggu sejak bertemu, kenapa masih tak mau berkenalan? Siapa namamu?" Mencoba mengakrabkan diri setiap menyajikan, berharap menemukan suatu petunjuk.

"Bagaimana kalau Jaka?" Tak terduga, pria itu seketika mengalihkan pandangannya kepadaku seolah-olah mengisyaratkan keheranan.

"Jaka, aku menamaimu dengan potongan kata di jam bandul bodoh itu, J-A-K-A". Ku telunjuki masing-masing ejaan huruf.

"Aku anggap keheninganmu sebagai jawaban setuju. Ayolah cepat, aku mulai lapar"

Ia kembali menata sarapan pagi ku. Yang membuat heran, mengapa ia repot-repot untuk menata sedemikian rapi?

"Kau membuatku terkesan Jaka, sampai-sampai menaruh pisau makan ini di sebelah kiri. Bagaimana pula kau tahu bahwa aku seorang kidal?" Tanyaku dengan nada yang cukup menggaanggu.

"Lagi pula, apa kau berasal dari perkumpulan wisata? Kau sangat handal dalam menata makanan, seperti tabble manner!.


10.48 pagi

"Ah, akhirnya tepat 30 menit, kau selalu tepat waktu saat menata sarapanku Jaka"


Pria itu segera membuka rantai bodoh ini, dan membiarkan tangan berleluasa untuk mengais makanan yang tadi sempat rapi.


10.50 pagi

Segera ia beranjak, dan tiba-tiba tak tersadar menjatuhkan sebuah lipatan kertas. Setelah keluar serta mengunci pintu kembali, dengan cepat kubuka lipatan kertas yang ternyata sebagian besar sobek, lalu menemukan;


RUMAH SAKIT JIWA TAMAN DELUSI

Nama: Ekhsa Dhira 

Ruangan: Ruang inap Melati 

Bilik: No.12 

Tanggal masuk: 14 Mei 1876 

Alamat: TIDAK DIKETAHUI    

"Ternyata namaku Dhira".

Share
Tweet
Pin
Share
4 Komentar


Terhitung empat tahun lamanya sejak terakhir menginjakan kaki pada tahun 2019. Selalu menemukan hal baru mungkin adalah pernyataan yang tepat untuk menjelaskannya. Sebelum berkunjung kembali, ada satu tempat yang kerap disinggahi seorang diri pada tahun itu. Warung Kopi Dadi disebutnya, mengikuti nama pemiliknya. Jika ditaksir, satu minggu tiga kali bisa kulihat Pak Dadi menyeduh kopi tubruk hangat bersamaan dengan musik dangdutnya yang begitu kencang, sampai-sampai kuhafal salah satu lagu favoritnya.

Tempatnya begitu sederhana, tidak begitu luas, serta tidak ramai. Sebuah kombinasi apik yang membuat betah, setidaknya untuk diri ini. Setelah beraktivitas seharian, tempat ini menjadi sebuah tujuan ketika menyadari bahwa hanya beberapa bulan saja berada di sini.

Banyak orang yang berlalu-lalang masuk dan keluar di tempat ini. Walau bisa dihitung jari, mereka semua mengekspresikan bahwa tempat ini adalah sebuah tujuan, sama seperti yang diucapkan sebelumnya. Banyak yang ditemui; seorang pekerja kasar, pegawai kantoran, juru parkir, bahkan pengemudi ojek online. Mereka semua punya perkaranya masing-masing, dan menceritakan kegelisahannya satu sama lain.

Pernah berbincang dengan seorang pengemudi ojek online di tempat semacam ini? Kusarankan cobalah. Begitu menarik berbincang dengan orang sepertinya, mengenal betapa kecil dan luasnya dunia. Terkadang, orang-orang sepertinyalah yang lebih memahami dunia ini dibandingkan orang yang menulis cerita tidak bermaksud. 

Setelah banyak bertemu orang yang berbeda perkara, dapat dipahami satu hal. Semua orang ini begitu hebat. Mereka mempunyai peran melumasi sebuah roda besar yang berputar 24 jam, dinamai; Jakarta.

Share
Tweet
Pin
Share
1 Komentar


Dihadiri perkumpulan bodoh ini sekali lagi. Atau perlu disebut kesekian kalinya? Setiap perbincangan sesaat yang sekiranya sesat. Apa bisa diperbuat? Toh mungkin sudah menjadi jalan untuk diri yang tak bermartabat.

Oh Tuhan, apa sebenarnya rencana-Mu dengan semua ini? Klise, tapi banyak orang mengatakan ini semua hanya satu rintangan untuk satu tujuan. Seolah, mereka menutup semua pintu pemahaman tentang kebenaran, agar imajinasi dan ilusinya tidak terhancurkan. 

Setelah dipikirkan, mungkin bisa dimengerti pula maksudnya. Mereka hanya melakukan apa yang disukai, dimengerti, dan dianggap berbeda sekali. Pernah berada di tahapnya, dan memang menyenangkan bak seorang yang berisi. Setelah mengalami banyak hal, yang sedemikian rupa hanyalah sebuah ilusi kesenangan pribadi. Beruntung sudah berdamai, kini cukup mengangguk serta mendengarkan bualan-bualan yang tak berarah. Dibuatnya seperti cermin masa lalu, muda dan bersemangat.

Share
Tweet
Pin
Share
No Komentar

 

Selatan memang primadona, banyak kawula yang mendambakan tempat itu sebagai singgahan masa tua. "Kelak kubeli lahan puluh hektar di kawasan macam ini apabila ku menua", sebuah templat kalimat yang kukira pasti diucap oleh siapapun saat melihat ciptaan-Nya. Dan aku, cukup beruntung bisa merasakan keindahan itu dengan setengah jam saja menaiki sepeda motor. Ditambah, beberapa kawan sekolahku tinggal di kawasan tersebut.

Tak tahu kebaikan apa yang baru kuperbuat, rezeki tetiba datang dan mengharuskanku untuk cukup sering ke Selatan dalam satu bulan ke depan. Jujur saja, sudah cukup lama sejak aku terakhir kali mengunjunginya. Kuharap, tak banyak terjadi perbedaan agar dapat pula kurasakan lagi sejuknya warung sisi jalan seperti dahulu. Ah, rindu masa sekolah dibuatnya.

Pertama menyapa, ia menyebut dirinya Qarish. 

"Qarish Al-Farizi Umar" sebutnya, untuk mengenalkan secara utuh.

Sederhana dan muda, kupikir. Dengan topi bermerek, kemeja halus tebal, celana cargo, dan sepatu boots kasual menampakkan dirinya orang petualang. Perawakannya cukup tinggi, selalu tersenyum tamah yang membuat rahang dan jenggotnya menunjukkan kapasitas. Sang penyalur rezeki ini begitu ramah, sejak tiba di kantornya langsung saja ia sigap memberi sajian hangat. Sangat peka, mengerti bahwa diri ini tak terbiasa dengan dinginnya Selatan ucapku dalam hati

"Maaf membuatmu berkorban setengah jam hanya untuk mengobrol" ucapnya dengan nada yang lagi-lagi sangat ramah.

"Tak apa Kang, saya punya kawan dekat di sini. Mungkin sekalian silaturahmi padanya, sudah lama juga tak bertemu."

"Begitu, yasudah habiskan saja dahulu bakwannya. Jangan lupa juga bandrek, cocok untuk cuaca seperti ini."

"Baik, Kang."

"Sudah menghangatkan diri, kita naik ke atas. Bertemu salah satu tim saya, Rickz"

Hanya perlu 15 menit saja untuk menghangatkan diri. Memang benar ucapan Kang Qarish, kudapan semacam ini sangat pantas untuk dinikmati di Selatan. Segera kami menuju atas menaiki sepeda motor yang kemudian berhenti di sebuah warung kopi depan lapang kemah yang luas. Disuruhnya aku 'tuk menaiki tangga warung kopi tersebut yang kebetulan memiliki lantai 2. 

Semua obrolan terasa hangat, berwawasan, dan seru. Banyak hal yang bisa kudapat dari setiap kata baru yang terucap dari Kang Qarish. Satu kata yang sangat terpancap olehku adalah "Tamu". Baginya, setiap pembeli jasa untuk menikmati keindahan Selatan adalah seorang tamu yang perlu dilayani dengan sepenuh hati.

"Pelanggan adalah tamu, kita adalah pemandu, dan Tuhan adalah penjamu" ucapnya.

Satu setengah jam berlalu begitu cepat, sebenarnya banyak yang bisa kuceritakan. Dan kusadari layaknya saat menulis cerita ini, aku harus bergegas menuju rumah dan tidur di tempat tidur karena hari ini terasa begitu lelah. Mungkin lain waktu akan kuceritakan lebih banyak mengenai orang-orang baik yang pernah ku kutemui di dunia ini.

Share
Tweet
Pin
Share
No Komentar
cerita lama

berkenan membaca?

tulisan terkini.

sapalah!

About Me

Baginya, beragam tulisan yang terbaca tak begitu berkesan. Yang diharapkan hanya sebatas karya yang terpajang abadi, serta menjadi eksistensi keberadaan

TEMUKANLAH!

  • instagram
  • email

"pada akhirnya, ia menyadari bergumam adalah suatu hiburan agar tetap tegar serta hidup. " -flanelhitam.