Selatan
Selatan memang primadona, banyak kawula yang mendambakan tempat itu sebagai singgahan masa tua. "Kelak kubeli lahan puluh hektar di kawasan macam ini apabila ku menua", sebuah templat kalimat yang kukira pasti diucap oleh siapapun saat melihat ciptaan-Nya. Dan aku, cukup beruntung bisa merasakan keindahan itu dengan setengah jam saja menaiki sepeda motor. Ditambah, beberapa kawan sekolahku tinggal di kawasan tersebut.
Tak tahu kebaikan apa yang baru kuperbuat, rezeki tetiba datang dan mengharuskanku untuk cukup sering ke Selatan dalam satu bulan ke depan. Jujur saja, sudah cukup lama sejak aku terakhir kali mengunjunginya. Kuharap, tak banyak terjadi perbedaan agar dapat pula kurasakan lagi sejuknya warung sisi jalan seperti dahulu. Ah, rindu masa sekolah dibuatnya.
Pertama menyapa, ia menyebut dirinya Qarish.
"Qarish Al-Farizi Umar" sebutnya, untuk mengenalkan secara utuh.
Sederhana dan muda, kupikir. Dengan topi bermerek, kemeja halus tebal, celana cargo, dan sepatu boots kasual menampakkan dirinya orang petualang. Perawakannya cukup tinggi, selalu tersenyum tamah yang membuat rahang dan jenggotnya menunjukkan kapasitas. Sang penyalur rezeki ini begitu ramah, sejak tiba di kantornya langsung saja ia sigap memberi sajian hangat. Sangat peka, mengerti bahwa diri ini tak terbiasa dengan dinginnya Selatan ucapku dalam hati
"Maaf membuatmu berkorban setengah jam hanya untuk mengobrol" ucapnya dengan nada yang lagi-lagi sangat ramah.
"Tak apa Kang, saya punya kawan dekat di sini. Mungkin sekalian silaturahmi padanya, sudah lama juga tak bertemu."
"Begitu, yasudah habiskan saja dahulu bakwannya. Jangan lupa juga bandrek, cocok untuk cuaca seperti ini."
"Baik, Kang."
"Sudah menghangatkan diri, kita naik ke atas. Bertemu salah satu tim saya, Rickz"
Hanya perlu 15 menit saja untuk menghangatkan diri. Memang benar ucapan Kang Qarish, kudapan semacam ini sangat pantas untuk dinikmati di Selatan. Segera kami menuju atas menaiki sepeda motor yang kemudian berhenti di sebuah warung kopi depan lapang kemah yang luas. Disuruhnya aku 'tuk menaiki tangga warung kopi tersebut yang kebetulan memiliki lantai 2.
Semua obrolan terasa hangat, berwawasan, dan seru. Banyak hal yang bisa kudapat dari setiap kata baru yang terucap dari Kang Qarish. Satu kata yang sangat terpancap olehku adalah "Tamu". Baginya, setiap pembeli jasa untuk menikmati keindahan Selatan adalah seorang tamu yang perlu dilayani dengan sepenuh hati.
"Pelanggan adalah tamu, kita adalah pemandu, dan Tuhan adalah penjamu" ucapnya.
Satu setengah jam berlalu begitu cepat, sebenarnya banyak yang bisa kuceritakan. Dan kusadari layaknya saat menulis cerita ini, aku harus bergegas menuju rumah dan tidur di tempat tidur karena hari ini terasa begitu lelah. Mungkin lain waktu akan kuceritakan lebih banyak mengenai orang-orang baik yang pernah ku kutemui di dunia ini.


0 Komentar