Taman dan Waktu - Bagian Pertama
Telah satu minggu semenjak diri ini terbangun. Masih menjadi beban pikiran, tak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi belenggu tangan ini membatasi ruang gerak tubuh. Tak hanya itu, rantai besar nampaknya mengikat kaki dengan maksud tertentu. Sial, ruangan ini tak bisa menjadi tempat untuk hidup.
Lagi pula, bau tak sedap menyebar di segala sudut. Bahkan tak ada ruang untuk udara saling dipergunakan oleh makhlup hidup di dalamnya, yang tak lain adalah diriku. Tapi sungguh, sungguh melegakan, setitik cahaya dari lubang kecil memberi isyarat bahwa masih ada mentari di luar sana.
"5 menit lagi seharusnya ia datang"
10.18 pagi
"Oh hey! Kau terlambat 3 menit dari biasanya. Menu hari ini apa?"
Waktu sangat akrab di ruangan ini. Bagaimana tidak? Selain rantai yang menahan diri, terdapat jam bandul tinggi yang terukir cantik dengan aksara sunda kuno. Merasa aneh dan tak teringat, kenapa bisa dibaca serta dimengerti aksara tersebut?
"Aku bisa membaca tulisan aksara sunda di depan, apakah dulu Aku seorang wanita sastrawan? Atau mungkin seniman? Ayolah jawab, tak ada yang membuat penasaran selain diri ini"
Pria itu hanya diam, tak menjawab seperti biasanya. Ia sibuk menata sarapan ku yang beralaskan tanah. Terlihat perawakannya yang cukup bugar, tidak terlalu tambun. Digunakannya flanel hitam halus dengan celana bahan, serta beralaskan sepatu kulit. Tak bisa kulihat wajahnya, topeng Panji berwarna merah pekat itu selalu dikenakan kali ia berkunjung ke ruangan ini.
"Nampaknya lezat hari ini, nasi sayur dan udang. Apakah hari spesial?"
"Sudah seminggu sejak bertemu, kenapa masih tak mau berkenalan? Siapa namamu?" Mencoba mengakrabkan diri setiap menyajikan, berharap menemukan suatu petunjuk.
"Bagaimana kalau Jaka?" Tak terduga, pria itu seketika mengalihkan pandangannya kepadaku seolah-olah mengisyaratkan keheranan.
"Jaka, aku menamaimu dengan potongan kata di jam bandul bodoh itu, J-A-K-A". Ku telunjuki masing-masing ejaan huruf.
"Aku anggap keheninganmu sebagai jawaban setuju. Ayolah cepat, aku mulai lapar"
Ia kembali menata sarapan pagi ku. Yang membuat heran, mengapa ia repot-repot untuk menata sedemikian rapi?
"Kau membuatku terkesan Jaka, sampai-sampai menaruh pisau makan ini di sebelah kiri. Bagaimana pula kau tahu bahwa aku seorang kidal?" Tanyaku dengan nada yang cukup menggaanggu.
"Lagi pula, apa kau berasal dari perkumpulan wisata? Kau sangat handal dalam menata makanan, seperti tabble manner!.
10.48 pagi
"Ah, akhirnya tepat 30 menit, kau selalu tepat waktu saat menata sarapanku Jaka"
Pria itu segera membuka rantai bodoh ini, dan membiarkan tangan berleluasa untuk mengais makanan yang tadi sempat rapi.
10.50 pagi
Segera ia beranjak, dan tiba-tiba tak tersadar menjatuhkan sebuah lipatan kertas. Setelah keluar serta mengunci pintu kembali, dengan cepat kubuka lipatan kertas yang ternyata sebagian besar sobek, lalu menemukan;
RUMAH SAKIT JIWA TAMAN DELUSI
Nama: Ekhsa Dhira
Ruangan: Ruang inap Melati
Bilik: No.12
Tanggal masuk: 14 Mei 1876
Alamat: TIDAK DIKETAHUI
"Ternyata namaku Dhira".


4 Komentar
woaahhh!!
BalasHapushello anon!
HapusPART 2?
BalasHapus2 whoever u are, gue suka bgt tulisannya!
BalasHapus