Yona dan Hari Minggu
Minggu bukan hari yang baik Yona. Berkali-kali ia mendengar suara orang terdekatnya berteriak menggunakan kata kasar yang tak sudi untuk diperdengarkan. Sial, dingin sekali kota ini, apa yang harus kulakukan sementara ia berteriak di sana? Yona bergumam dengan diri sendiri. Baginya, hal semacam ini sudah tak asing. Pikirannya bercabang, kembali kepada hal yang sangat mendasar bagi dirinya. Bagaimana cara agar adiknya tak mengalami trauma atas apa yang terjadi di tempat itu?
Yona sangat menyayangi adiknya, lebih dari apapun. Pernah terbesit di benaknya Aku harus membuat hidup adikku lebih baik dariku. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya, Bahkan orang tuanya sendiri. Karena mereka berdua tahu, mereka harus saling menjaga di kala tak ada yang mendukung. Yona mematung lama di kasur kecil itu, memasang earphone lalu memejamkan matanya. Berkali-kali orang itu melewati dirinya. Ah, dia sedang tidur. Syukurlah dia tidak mendengar apa yang sedang terjadi, Ia ingin orang-orang di tempat itu berpikir demikian. Yona sangat cerdik dalam berpretensi, belakangan ini ia sering menunjukan keahliannya itu. Menggunakan berbagai cara agar ia dapat mengurusi dirinya sendiri.
Seketika rumah itu hening. Kesempatan emas! Pikir Yona. Segera ia mengemasi pakaiannya menggunakan tas kecil, melepas earphone yang sebelumnya terpasang, lalu memindahkan sepeda motor ke teras depan. Sebelum menyalakan motor, ia mengecup kening adiknya yang entah sedang tertidur atau hanya sandiwara. Mungkin adiknya juga sudah ahli dalam berpretensi seperti dirinya.
Tak usah khawatir, Yona memang tak punya tempat tujuan, tapi ia punya satu tempat yang bisa ia sebut rumah. Yaitu rumahnya sendiri dalam arti lain. Rumah yang dulunya adalah tempat yang harmonis, kini dihuni oleh dirinya dan rekannya layaknya penyewaan.
Sesaat sampai di rumahnya itu, terasa suasana remang dan gelap terpancar dari tirai pintu berwarna kuning kehijauan. Membuatnya merenung atas apa yang terjadi beberapa saat lalu. Saat ini, ia hanya bisa melarikan diri dari masalah yang seharusnya ia hadapi. Masa bodoh, aku sudah tak percaya lagi dengan siapapun. Jangan salahkan aku jika hatiku menjadi keras, mereka yang membuatku begini. Merupakan kalimat yang berkali-kali ia utarakan kalimat itu kepada diri sendiri, sehingga menjadikannya sebuah pemikiran abadi. Untuk saat ini.
Ia menyalakan laptop kecilnya, lalu memutar lagu yang belakangan ini sering ia dengar, Pale Waves - Fall to Pieces. Lalu ia melakukan kebiasannya yang lain, menulis cerita bodoh ketika ia sedang jatuh.


1 Komentar
GOODDD
BalasHapus